Jumat, 01 November 2013

Trilogi Filosofi : Filosofi Teman



Tulisan terakhir dari Trilogi Filosofi. Kalau yang ini tentang bagaimana pandanganku terhadap seorang teman, dan cara berteman. Aku menulis ini tanpa maksud menyindir siapapun. Jadi, sifatnya umum. Cekidot..

Sesuatu yang baru saja kusadari .. sesuatu yang membuatku merubah segala pola pikirku tentang hidup, sesuatu yang terasa baru bagiku .
Suatu komitmen dimana kita semua saling mengikat tali persaudaraan ditempat kita pertama berjumpa, saling menyapa dan berjanji akan terus bersama .. tapi dimanakah gerangan sensasi itu ?

Selasa, 08 Oktober 2013

Trilogi Filosofi : Filosofi II

Tulisan kedua dari Trilogi Filosofi. Jika filosofi pertama aku menulis tentang mimpi, maka yang kedua ini masih sama tentang mimpi, namun lebih spesifik lagi, yaitu jalan yang ditempuh untuk menggapai mimpi tersebut. Aku menulis ini tak lama setelah yang pertama karena 'dia' memuji filosofi yang pertama dan menunggu yang kedua. Jadi, aku tak ingin membuatnya menunggu, maka aku pun langsung menulis yang kedua, masih dengan penghayatan yang sama dalamnya seperti yang pertama. Cekidot :

Trilogi Filosofi : Filosofi I


Selain Trilogi Mimpi, aku juga memiliki rangkaian tiga tulisan lain, yaitu Trilogi Filosofi atau Trilogy of Philosophy. Bahkan, trilogi ini aku tulis sebelum Trilogi Mimpi. Aku akan repost ketiganya secara berurutan. Berikut adalah filosofi pertama : 
 
“I tell the kids to pursue their basketball dreams, but I tell them not to let that be  only a dream"


Senin, 30 September 2013

Aku "dan" Mereka. Bukan Aku "Bersama" Mereka

Cerita sensitif ini bermula saat aku menjalani masa PESMABA selama empat hari. Ya, aku langsung to the point untuk menyingkat waktu dan untuk masalah ini, aku tak ingin bertele-tele. Aku ingin segera mengakhirinya agar mukaku tak semakin memerah, aku sungguh malu untuk menceritakan kisah bodoh ini.

Jadi begini, ada salah seorang kawan di kelompokku yang, err, menarik untuk disimak. Bukannya aku menyukainya atau bahkan menyayanginya. Aku hanya merasa ingin dekat dengannya, ingin memiliki satu affair khusus kepadanya. Dan alasanku sederhana. Dia sangat menggemaskan, ia, bagaimanapun caranya dan apapun yang ia lakukan, selalu dapat membuatku tertawa atau minimal tersenyum gemas melihat tingkah lakunya. Melihat wajahnya yang polos dan matanya yang sayu, atau lesung di pipinya ketika ia tersenyum, dan gigi gingsulnya ketika ia tertawa. Ah, ia sungguh membuat hari-hari PESMABA-ku berwarna dengan segala ucapan dan tingkah lakunya. Ia bermuka manis, sedap dipandang. Namun yang membuatku ingin dekat dengannya adalah rasa nyaman yang aku rasakan disetiap kehadirannya, baik itu diluar atau didalam kampus. Ia adalah tipikal cewek polos yang masih pure, ia memesona orang yang melihatnya dengan keluguan dan kepolosannya itu. Namun, seperti yang aku bilang tadi, aku bukannya menyukainya atau apa, aku hanya ingin menjadi lebih dekat. Dan setiap kali aku bertemu dengannya, ia selalu berteriak, "Biilll!" dengan suaranya yang cempreng dan senyumnya yang khas. Ia selalu menyapaku dengan riang. Bagaimana aku tidak bisa menolak untuk memberikan senyuman pula kepadanya ?

Putih Kelabu

Sama seperti tulisan tadi. Tulisan ini juga repost dari Facebook yang belum sempat ada di blog. Aku menulis ini ketika kelulusan SMA dulu, sekaligus tulisan terakhirku sebagai seorang pelajar SMA. Aku menulis ini dengan emosi yang tak kalah dalam saat aku menulis Trilogi Mimpi. Saat menulis, aku membayangkan teman-temanku, guru-guruku dan mereka yang pernah mengisi hari-hari putih abu-abuku.

Semuanya Berbeda

Tulisan ini aku buat pada bulan April tahun lalu. Aku lupa alasan dibalik tulisan itu, namun aku belum sempat menyalinnya ke blog, maka mumpung sekarang ada kesempatan aku akan repost dari catatan di Facebook. Ini dia ..

Jumat, 27 September 2013

Campus' Life

Sudah sebulan lebih aku di Malang, dan kuliahku pun akan memasuki minggu ketiga Senin besok. Aku tak sempat menulis apapun di pertengahan bulan ini karena, (1) modemku secara mengejutkan tak terbaca di laptop walau semalaman aku coba pasang, dan (2) hotspot area di dalam kampus tak menjamin kepuasan untuk berinternet ria. Satu-satunya cara adalah meminjam laptop Ficky -kawan sekost- plus modemku, itu pun kalau dia ada di kost dan laptopnya tak terpakai.

Kehidupan perkuliahan -dunia baru bagiku- benar-benar merampas semua hak asasiku sebagai manusia.